Puisi Duka: Jejak Air Mata yang Tak Pernah Kering
Oleh JustYD
Prosa Pengantar
Kehilangan adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar dapat dipersiapkan. Ada perpisahan yang datang tanpa aba-aba, meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi kembali. Puisi ini mengisahkan duka yang tumbuh dari kenangan, tentang seseorang yang telah pergi namun tetap hidup dalam doa, ingatan, dan rindu yang tak pernah menemukan ujungnya. Semoga setiap bait mampu menjadi teman bagi hati yang sedang belajar menerima kehilangan.
Puisi
Jejak Air Mata yang Tak Pernah Kering
Pagi datang membawa cahaya,
namun hatiku masih berselimut malam.
Namamu masih menggema,
di setiap sunyi yang enggan menghilang.
Kursi yang dahulu kau duduki,
kini hanya menyimpan debu dan kenangan.
Tawamu telah menjadi gema,
yang berputar di lorong ingatan.
Aku belajar tersenyum,
meski air mata diam-diam jatuh.
Sebab kehilangan bukan tentang melupakan,
melainkan belajar hidup dengan hati yang rapuh.
Andai waktu dapat dipinjam,
ingin kuulang pertemuan yang sederhana.
Sekadar mendengar suaramu sekali lagi,
sebelum takdir menutup semua cerita.
Kini hanya doa yang mampu kutitipkan,
menembus langit yang tak berbatas.
Semoga kau damai di keabadian,
sementara aku menjaga kenangan
hingga waktu mempertemukan kita dalam keheningan yang abadi.
Makna Puisi
Puisi ini menggambarkan proses menerima kehilangan yang tidak pernah mudah. Duka bukan sekadar tangisan, tetapi juga keberanian untuk tetap melangkah sambil membawa kenangan orang yang telah pergi. Setiap bait mengajak pembaca memahami bahwa cinta sejati tidak berakhir saat perpisahan datang, melainkan terus hidup dalam doa dan ingatan.
Penutup
Terima kasih telah meluangkan waktu membaca puisi ini. Jika kisah ini menyentuh hati, semoga ia menjadi pengingat bahwa setiap kehilangan akan selalu menyisakan cinta, dan setiap cinta akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang.
Puisi Duka
Belum ada Komentar untuk "Puisi Duka: Jejak Air Mata yang Tak Pernah Kering"
Posting Komentar
Catatan Untuk Para Jejaker