Pengantar
Di ambang fajar yang enggan bernyanyi, aku menghitung langkah yang tak lagi bersuara. Namamu tinggal gema, mengendap di sela doa yang tak se...
Puisi: Jejak yang Tak Kembali
Di ambang fajar yang enggan bernyanyi,
aku menghitung langkah yang tak lagi bersuara.
Namamu tinggal gema,
mengendap di sela doa yang tak sempat selesai.
Langit menurunkan hujan tanpa isak,
namun dadaku telah lebih dulu banjir.
Setiap tetesnya mengingatkan,
bahwa kehilangan tak pernah benar-benar pergi.
Aku mencoba berdamai dengan waktu,
meski ia selalu berpihak pada perpisahan.
Senyummu kini hanya tumbuh
di taman kenangan yang tak dapat kusentuh.
Bila suatu hari angin menyebut namamu,
biarkan aku tersenyum meski mata basah.
Sebab cinta yang tulus tak pernah mati,
ia hanya belajar hidup dalam duka.
Puisi Duka
Belum ada Komentar untuk "Jejak yang Tak Kembali"
Posting Komentar
Catatan Untuk Para Jejaker