Pada palung nirwana yang diselubungi abstrusitas,
kuselipkan afeksi ke dalam anima mundi,
agar namamu bersemayam
sebagai eidos yang tak tercemari fana.
Engkau adalah numinosa
yang mengoyak tabir anabasis batinku,
mengalirkan serendipitas ke relung
yang lama terperangkap
dalam obskuritas tak bernama.
Tatapanmu ialah aksioma arkais,
tak tunduk pada dialektika nalar,
melainkan bersemi
di antara ekumena rasa
yang tak pernah mampu kutuntaskan.
Andai semesta hanyalah
kosmogoni yang rapuh,
aku rela menjadi efluvium sunyi
yang terus mengitari
zenit keberadaanmu,
meski tak pernah menjelma cahaya.
Maka terimalah aku,
bukan sebagai pemilik hatimu,
melainkan aksara purba
yang senantiasa mengukir namamu
di altar abadi infinitas,
hingga waktu kehilangan
kemampuannya untuk memisahkan
aku darimu.
Berikan pendapat anda tentang karya ini, tidak mengandung sara dan ujar kebencian.