Pada senyap yang mengendap di sela senja,
kutulis namamu dengan diksi paling purba,
setiap huruf menjelma mantra yang setia,
menghidupkan rasa dalam sunyi yang nyata.

Kau adalah eunoia di halaman kalbuku,
mengubah resah menjadi harmoni yang teduh,
setiap kata yang lahir dari tatapmu,
menjadi semesta yang tak pernah runtuh.

Di antara metafora dan desir waktu,
aku merangkai afinitas tanpa jeda,
meski dunia lupa mengeja namamu,
hatiku tetap fasih menyebutnya selamanya.

Jika kelak seluruh leksikon memudar,
dan usia menua bersama cakrawala,
biarlah cintaku menjadi aksara yang tak pudar,
abadi dalam ingatan, selamanya bermakna.