Puisi: Elegi pada Hening yang Tersisa
Elegi pada Hening yang Tersisa
Pengantar
Ada masa ketika sebuah cerita perlahan kehilangan suara. Percakapan yang dahulu terasa dekat berubah menjadi jarak, sementara kenangan tetap tinggal di antara hari-hari yang terus berjalan.
Hening tidak selalu berarti akhir yang menyakitkan. Terkadang, keheningan adalah ruang untuk menerima perubahan, memahami apa yang telah terjadi, dan belajar menghargai setiap bagian dari perjalanan yang pernah dilalui.
Puisi: Elegi pada Hening yang Tersisa
Pada hening yang tersisa,
masih terdengar langkah masa lalu,
bukan sebagai suara yang meminta kembali,
melainkan kenangan yang pernah berlalu.
Ada kata yang belum sempat selesai,
ada cerita yang berhenti di tengah jalan,
tetapi waktu tak pernah menunggu,
ia terus membawa hari menuju perubahan.
Aku belajar duduk bersama sunyi,
tanpa harus mencari siapa yang salah,
sebab setiap perjalanan memiliki arti,
dan setiap perpisahan membawa pelajaran.
Kini yang tersisa hanyalah kenangan,
tersimpan rapi di sudut ingatan,
tidak untuk kembali mengulang,
tetapi untuk mengenang dengan ketenangan.
Jika suatu hari hening kembali datang,
aku tak lagi takut menghadapinya,
sebab aku telah belajar menerima,
bahwa tidak semua cerita harus selamanya.
Makna dan Pesan
Puisi “Elegi pada Hening yang Tersisa” berbicara tentang perubahan, kenangan, dan proses menerima sebuah cerita yang telah berakhir. Hening digunakan sebagai simbol dari keadaan setelah sesuatu yang dahulu ramai perlahan menjadi sepi.
Puisi ini mengajarkan bahwa tidak semua hal yang berakhir harus dipandang sebagai kegagalan. Ada pengalaman yang memang hadir untuk memberikan pelajaran, memperkaya perjalanan hidup, dan membantu kita memahami arti kehilangan serta penerimaan.
Pesannya adalah jangan terus terjebak pada sesuatu yang telah berlalu. Kenangan boleh disimpan sebagai bagian dari perjalanan, tetapi langkah kehidupan tetap perlu diteruskan.
Penutup
Hening mungkin terasa asing ketika kita terbiasa dengan kehadiran dan suara seseorang. Namun, seiring waktu, kita dapat belajar bahwa kesunyian juga memiliki ruang untuk menghadirkan ketenangan.
Pada akhirnya, setiap cerita akan menemukan akhirnya masing-masing. Yang terpenting bukan berapa lama sebuah cerita berlangsung, tetapi bagaimana kita mengambil makna darinya dan melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih bijaksana.
Belum ada Komentar untuk "Elegi pada Hening yang Tersisa"
Posting Komentar
Catatan Untuk Para Jejaker