Langit menggulung kelabu di pelupuk petang,
sementara rinduku menjelma gema yang tak pulang;
setiap langkah menyusuri lorong kenangan,
namun hanya sunyi yang sudi menjadi teman.

Kau telah pergi bersama musim yang berganti,
meninggalkan jejak yang tak mampu kuhindari;
waktu terus berarak tanpa menoleh lagi,
sedang hatiku masih terpaut pada memori.

Kupungut serpih harapan yang nyaris luruh,
meski takdir mengajarkan bahwa kehilangan adalah utuh;
sebab duka bukan sekadar air mata yang jatuh,
melainkan cinta yang tak lagi menemukan arah untuk berteduh.

Jika suatu hari angin membawa namamu kembali,
biarlah ia singgah sebagai doa, bukan penyesalan;
karena pada setiap akhir yang sunyi,
selalu ada cinta yang memilih abadi dalam kenangan.