Aku menitipkan namamu pada angin senja,
agar ia tahu ke mana rinduku berlabuh.
Namun angin hanya kembali membawa sunyi,
menyisakan sesak yang tak mampu luluh.

Katamu cinta adalah rumah,
tempat segala lelah menemukan tenang.
Nyatanya aku hanya tamu,
yang kau persilakan pergi saat hati mulai bimbang.

Sering kali aku tersenyum di hadapan dunia,
menyembunyikan retak yang tak terlihat mata.
Sebab tak semua luka mengalir sebagai air mata,
ada yang memilih diam hingga menjadi nestapa.

Bila suatu hari kau mengingat namaku,
jangan cari aku di ujung penyesalan.
Carilah aku pada doa-doa yang pernah kupanjatkan,
karena di sanalah cintaku akan tetap tinggal.