Di ujung gang yang dilupakan zaman,
berdiri gubuk rapuh menantang hujan.
Seorang lelaki tua berwajah lusuh,
menggenggam tangan cucunya yang tubuhnya mulai runtuh.
Perut kecil itu bernyanyi lirih,
lebih pilu dari pada suara petir.
Tak ada nasi, tak ada lauk,
hanya air mata yang menjadi teman hidup.
Dengan langkah gemetar ia melangkah,
mengambil dua butir telur dari rak yang sederhana.
Bukan untuk berpesta, bukan demi kekayaan,
melainkan agar cucunya tak lagi tidur dalam kelaparan.
Namun dunia lebih cepat menghakimi
dari pada bertanya alasan di balik sepi.
Amarah menjelma lautan manusia,
menghujani tubuh renta tanpa belas kasihan.
Tak sempat hukum membuka mata,
tak sempat nurani mengucap tanya.
Di jalanan yang dipenuhi teriakan,
seorang kakek mengembuskan napas terakhir dalam ketidakadilan.
Ironis...
Mereka yang mencuri demi perut kosong
sering dihukum tanpa ruang untuk didengar.
Sedang mereka yang merampas hak banyak orang
kadang berjalan tegak dengan jas dan senyum yang lebar.
Wahai negeri yang mengaku menjunjung keadilan,
masihkah timbanganmu seimbang?
Ataukah ia hanya berat bagi yang lemah,
namun ringan bagi mereka yang berkuasa?
Hari itu, yang mati bukan hanya seorang kakek.
Dua butir telur menjadi saksi,
bahwa belas kasih telah kalah oleh amarah,
dan keadilan kehilangan wajahnya sendiri.
Puisi Kritikan
Belum ada Komentar untuk "Dua Butir Telur, Satu Nyawa"
Posting Komentar
Catatan Untuk Para Jejaker