Dua Butir Telur, Satu Nyawa

Dua Butir Telur, Satu Nyawa
Di ujung gang yang dilupakan zaman,
berdiri gubuk rapuh menantang hujan.
Seorang lelaki tua berwajah lusuh,
menggenggam tangan cucunya yang tubuhnya mulai runtuh.

Perut kecil itu bernyanyi lirih,
lebih pilu dari pada suara petir.
Tak ada nasi, tak ada lauk,
hanya air mata yang menjadi teman hidup.

Dengan langkah gemetar ia melangkah,
mengambil dua butir telur dari rak yang sederhana.
Bukan untuk berpesta, bukan demi kekayaan,
melainkan agar cucunya tak lagi tidur dalam kelaparan.

Namun dunia lebih cepat menghakimi
dari pada bertanya alasan di balik sepi.
Amarah menjelma lautan manusia,
menghujani tubuh renta tanpa belas kasihan.

Tak sempat hukum membuka mata,
tak sempat nurani mengucap tanya.
Di jalanan yang dipenuhi teriakan,
seorang kakek mengembuskan napas terakhir dalam ketidakadilan.

Ironis...
Mereka yang mencuri demi perut kosong
sering dihukum tanpa ruang untuk didengar.
Sedang mereka yang merampas hak banyak orang
kadang berjalan tegak dengan jas dan senyum yang lebar.

Wahai negeri yang mengaku menjunjung keadilan,
masihkah timbanganmu seimbang?
Ataukah ia hanya berat bagi yang lemah,
namun ringan bagi mereka yang berkuasa?

Hari itu, yang mati bukan hanya seorang kakek.
Dua butir telur menjadi saksi,
bahwa belas kasih telah kalah oleh amarah,
dan keadilan kehilangan wajahnya sendiri.
Puisi Kritikan

Belum ada Komentar untuk "Dua Butir Telur, Satu Nyawa"

Posting Komentar

Catatan Untuk Para Jejaker
  • Mohon Tinggalkan jejak sesuai dengan judul artikel.
  • Tidak diperbolehkan untuk mempromosikan barang atau berjualan.
  • Dilarang mencantumkan link aktif di komentar.
  • Komentar dengan link aktif akan otomatis dihapus
  • *Berkomentarlah dengan baik, Kepribadian Anda tercemin saat berkomentar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

✦ JustYD
Panel Visual CSS Postingan
Atur tampilan artikel tanpa menulis CSS. Perubahan dapat dipratinjau langsung.
SINGLE POST
🎨 Preset Tampilan
✍ Tipografi
🎨 Warna
▣ Bentuk & Spasi
👁 Pratinjau
Judul Puisi

Di antara senja dan sunyi, ada kata yang tetap tinggal. Ia tumbuh menjadi kenangan, lalu menjadi puisi.

Sebab beberapa perasaan memang lebih indah ketika dituliskan.
Cara memakai: di Tata Letak panel ini menjadi panduan visual. Untuk mengatur tampilan pada blog secara langsung, buka URL artikel dengan tambahan ?jydsettings=1. Pengaturan tersimpan di browser/perangkat yang Anda gunakan. Tombol Salin Konfigurasi menghasilkan nilai konfigurasi jika ingin dijadikan pengaturan bawaan template.